Kamis, 03 Agustus 2017

Tak Terpakai di Dunia Politik, Amien Rais Berjuang di Jalur Ormas Anti Pancasila

Amien Rais
Satu hal yang saya suka kepada Amien Rais adalah semangatnya yang terus menyala-nyala dalam mengejar, mewujudkan, apa diperjuangkannya. Ia tak kenal lelah, apalagi menyerah. Sekali menentukan apa yang hendak dicapai, ia pasti all out berjuang, luar-dalam, hati, pikiran, aksi. Ia tak mengenal kata berhenti sebelum sampai ujung, walaupun kerap hanya di ujung jalan buntu.
Banyak yang seusia dia memilih istirahat dari hiruk pikuk politik. Bagi mereka, peran langsung dalam politik praktis sudah selesai. Panggung harus diserahkan kepada generasi muda. Bukan berarti diam, tetapi mereka mengambil peran yang lebih tinggi. Beralih menjadi “bapak” bagi semua anak-anak bangsa. Contohnya adalah B.J. Habibie dan Buya Ahmad Syafii Maarif.
Orang semacam itu lebih cocok berperan menjadi pemberi saran, penasehat, pemberi masukan kepada generasi muda. Entah secara formal lewat organisasi politik, organisasi masyarakat (Ormas), maupun informal melalui berbagai jalur. Ada di antaranya yang menulis buku, artikel di media, maupun dengan menjadi pembicara pada seminar-seminar di bidangnya masing-masing.
Amien beda. Ia tidak mau naik kelas. Selalu ingin menjadi pemain. Ibarat permainan bola. Ia tidak mau menjadi wasit atau hakim garis atau pelatih. Hanya mau bermain di posisi kapten di antara pemain muda yang energi dan staminanya prima.
Pasalnya, apa yang dilakukannya pada masa lalu, di dunia politik dan akademik dinilai belum cukup. Posisi ketua Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR), pendiri sekaligus ketua umum Partai Amanat Nasional (PAN), dan saat ini menjadi Ketua Dewan Kehormatan PAN, bagi Amien masih koma. Belum sampai di titik. Titik yang dibidiknya itu sejak Pemilu 1999 ialah jabatan presiden, tapi selalu gagal.
Apakah itu salah? Tentu tidak.
Pertanyaannya, apakah itu mungkin? Pertanyaan ini muncul karena adanya gejala sebaliknya dalam perjuangan Amien. Semakin melibatkan diri dalam dunia politik, ia makin ditinggalkan oleh para tokoh partai, termasuk PAN besutannya sendiri. Buktinya, ketika ia menyarankan agar menteri asal PAN keluar dari kabinet Jokowi, pimpinan PAN bilang: tidak! Lalu, kalau PAN saja tidak mendukung dia, siapa yang akan mendukung dia menjadi Presiden? HTI? FPI? Anggota GNPF MUI? Apa cukup?
Pada Pilres 2014 yang lalu, Amien mati-matian memertahankan panggung politik. Dengan segala upaya ia all outmemerjuangkan Prabowo dengan berbagai cara di berbagai kesempatan. Prabowo yang sebelumnya ia kritik habis-habisan karena kasus-kasus orang hilang, tiba-tiba ia puja-puji bak malaikat suci. Sampai-sampai ia bilang tidak ada orang yang bisa memimpin Indonesia selain prabowo. Hanyalah Prabowo yang bisa menyejahterakan rakyat Indonesia, yang bisa menegakkan wajah Indonesia di dunia internasional. Saking yakinnya, ia pun bernazar akan berjalan kaki pulang pergi Jogja-Jakarta kalau Jokowi menang.
Nyatanya? Semua sudah tahu, bukan?
Tujuannya memerjuangkan Prabowo sebenarnya ada dua. Pertama, ia menduga bahwa Prabowo bisa ia dikte. Dengan begitu perasaan sedihnya setelah usahanya menjadi presiden pada Pemilu 2004 karena dihempaskan oleh pasangan SBY-JK dianggapnya dapat disalurkan melalui kepemimpinan Prabowo.
Alasannya, dalam Manifesto Perjuangan Partai Gerindra yang sempat dikritik oleh Frans Magnis Suseno dinilai Amien cocok dengan cita-citanya. Salah satu di antaranya ialah pemurnian agama. Bagi Magnis Suseno, hal tersebut bisa berujung pada penindasan terhadap agama tertentu, melanggar HAM, dan Pancasila. Tetapi justru ini yang dinilai Amien tepat. Sampai-sampai ia menjuluki kompetisi antara Prabowo dan Jokowi sebagai perang badar. Ini hal kedua.
Pada Pilgub DKI 2017, Amien juga mati-matian memerjuangkan pasangan Anies-Sandy. Cuma caranya di sini sedikit beda. Selain memuja-muji Anies-Sandy setinggi langit, Amien terus-menerus menggalang kekuatan untuk menyerang Ahok dengan berbagai cara dan kesempatan. Nyaris tak ada hari yang tak digunakan Amien untuk menyerang Ahok. Nyaris tak ada media cetak dan elektronik yang tidak memuat aktivitas dan pernyataan-pernyataannya menyerang Ahok. Termasuk di mesjid-mesjid dan demo bergelombang dan berjilid-jilid sejak Oktober 2016.
Di sini pun ia bernazar: jika Jokowi tidak segera memenjarakan Ahok (menurut hukum buatannya sendiri), ia akan memimpin rakyat Indonesia keluar dari Indonesia. Syukur bahwa hakim memutuskan Ahok bersalah dengan hukuman 2 (dua) tahun penjara. Jika tidak, ada kemungkinan Amien sudah jungkir balik mewujudkan niatnya memimpin rakyat Indonesia keluar dari Indonesia.
He he logikanya kacau. Bagaimana caranya mengajak orang Indonesia keluar dari Indonesia? Mau diajak ke mana? Di ajak tinggal di laut? Di planet? Ataukah mau diajak ke padang pasir yang tak berpenghuni di Arab? Mau membentuk negara sendiri ya? Mau jadi presiden ya? Ha ha ha
Pertanyaannya, adakah efek manuver-manuvernya itu bagi dirinya dan para tokoh partai politik? Sulit saya jawab. Yang jelas, bahwa Prabowo sudah tak meliriknya lagi. Pertemuan Prabowo dengan SBY di Cikeas, 27 Juli 2017 sama sekali tidak melibatkan Amien Rais. Minta pendapat pun tidak. Prabowo mungkin baru tahu bahwa apa yang dikatakan Amien tak bisa dipegang. Banyak bualan, gombal!
Anies pun begitu. Tak memberikan peran apa pun kepada Amien. Sebagai penasehat, tidak. Jabatan dalam pemerintahan, juga tidak mungkin. Ia sudah tua. Dalam tim sinkronisasi, sama sekali tak disebut-sebut.
Di lingkungan partai politik, sudah tak dihitung sama sekali. Jangankan di luar PAN, dalam lingkungan PAN sendiri tidak laku.
Benar ia masih diposisikan sebagai Ketua Dewan Kehormatan PAN. Tapi jabatan itu tidak memiliki pengaruh besar bagi PAN. Barangkali hanya sekedar hiburan karena jasanya sebagai pendiri PAN. Suaranya dalam partai besutannya itu sudah tidak didengar karena dinilai merusak partai bahkan keutuhan berbangsa dan bernegara.
Apakah Amien kehabisan akal, kapok? Sama sekali tidak! Ia melihat bahwa HTI dan FPI merupakan Ormas yang selama ini berhasil menggalang demo besar untuk menjatuhkan Ahok, bahkan mengancam Jokowi. Daripada tidak laku di mana-mana, Amien menilai lebih baik berjuang di, dan, bersama Ormas anti Pancasila itu.
Di sini, Amien mendapat dua efek sekaligus. Pertama, ia tetap menjadi tokoh yang dielu-elukan, dipuja-puji, tetap menjadi pusat perhatian, dan terus menjadi bahan pembicaraan di berbagai kalangan.
Kedua, ia terus mendapat pasokan energi untuk menyerang Jokowi. Semangat HTI dan FPI untuk turun ke jalan berhari-hari tak diragukan. Mereka bisa diajak Amien teriak-teriak siang malam sambil meminta Jokowi turun dari jabatan presiden. Ini sangat disukai HTI dan FPI. Sebab, Presiden Jokowi bagi HTI, FPI, dan yang seideologi dengan mereka, adalah penghalang utama upaya mengubah Indonesia menjadi negara khilafiah Islamiyyah.

Bagi Amien, hal tersebut bukan masalah. Jangankan Jokowi lengser, Indonesia bubar pun bukan persoalan bagi Amien. Yang ia pentingkan cuma satu: tetap dianggap tokoh penting, tokoh central, kendati hanya dalam tempurung HTI dan FPI. Sudah jelas?