Oleh Yosafati Gulo
Dalam menjalankan kehidupan, air ternyata paling fleksibel. Ia tidak main babat dan memaksakan kehendak karena merasa dirinya benar. Manakala ia berada di ember, botol, gelas, aquarium, kolam, danau, dan seterusnya, ia pasti membentuk diri persis tempatnya itu. Ia menyesuaikan diri, tapi tidak kehilangan jati diri. Ia membentuk dirinya seperti ember, tapi tidak menjadi ember. Membentuk dirinya seperti botol, tapi tidak menjadi botol. Daya suai yang luar biasa ini membuat air selalu dapat diterima oleh wadah apa pun. Air dan wadah pasti sama-sama merasa nyaman, harmonis, tanpa konflik.
Manusia, karena berakal, seharusnya jauh lebih hebat. Bukan saja karena ia mampu meganalisis situasi sehingga memudahkannya menyesuaikan diri. Tapi ia juga berkemampuan mengubah situasi sehingga bisa menjadi lebih kondusif dan bernilai lebih bagi banyak komunitas. Paling tidak, bagi dirinya sendiri dan lingkungan!
Celakanya, kemampuan lebih ini ternyata suka disalahgunakan manusia. Ia terkadang malas menyesuaikan diri dengan keadaan sekitar. Kecenderungan hatinya adalah mengubah yang ada menurut selera hatinya, demi kepentingan dan kesenangan dirinya sendiri.
Ketika berjuang merebut posisi politik, misalnya, rakyat dielus-elus. Bahkan dibius dengan berbagai cara. Selama penggalangan suara, selalu berusaha tampil –seolah-olah sangat-- dekat dengan rakyat. Apa-apa yang diminta rakyat dipenuhi. Tidak segan-segan berbaur dengan rakyat di mana pun dan dalam acara apa pun. Seperti tulus betul menyatu dengan rakyat. Ngobrol, bergurau, bahkan makan bersama mereka di rumah makan pingir jalan. Pokoknya ia mencitrakan diri sebagai bagian dari rakyat yang paham betul keadaan rakyat.
Setelah terpilih, ternyata lain. Aslinya nampak. Jangankan memperjuangkan kepentingan rakyat yang sebelumnya diusung untuk merebut hati rakyat, mendengarkan keluhan rakyat saja, kupingnya gatal. Alergi. Inilah yang tengah dipertontonkan anggota DPR dan pejabat eksekutif Indonesia di semua aras saat ini.
***
Para pengusaha, sama saja. Dalam menjalankan usaha perkayuan di hutan,
ia tak peduli soal regenerasi hutan, efek banjir dan erosi, atau kelangsungan ekosistem. Yang penting baginya, asal berbau kayu semua dibabat. Ia tak pernah takut ancaman ketentuan hukum. Hukum hanya berlaku bagi kebanyakan orang. Bagi dia tidak. Di semua lembaga hukum, kepolisian, kejaksaan, kehakiman, Bupati, Wali kota, Gubernur adalah konco kentalnya. Dan, banyak juga di antara pejabat itu yang memposisikan diri seperti karyawan, yang kalau disuruh pasti “patuh”. Kepatuhan mereka, tentu saja bukan kepatuhan tulus karena dinilai benar, tapi lebih bersifat kepatuhan karena diberi imbalan. Semua konco-konco itu pasti memberikan perlindungan sampai kayu keluar dari hutan kemudian berubah wujud jadi uang.
Oleh sebab itu, ia tak pernah ragu membabat habis semua kayu. Yang penting, mendatangkan uang, uang, dan uang. Bahwa akan terjadi bahaya banjir dan tanah longsor, ia tak peduli karena tidak langsung mengenai dirinya. Rumahnya, anak-istrinya toh jauh dari lokasi. Mustahil mereka terkena dampak longsor dan banjir. Kalau orang desa terkena longsoran tanah dan banjir, biar saja. Itu kan urusan pemerintah, katanya dalam hati sambil terus menghitung keuntungan dari kayu.
Ketika mendirikan dan mengelola pabrik dengan menggunakan tenaga kerja berpendidikan rendah, ia tak pernah memikirkan masa depan karyawan. Kalau perlu mereka dibayar sekecil-kecilnya guna mendapatkan keuntungan sebesar-besarnya. Ia tak pernah mau paham bahwa tenaga kerja yang telah memberinya keuntungan itu juga manusia yang butuh masa depan. Masa depan yang lebih baik seperti dirinya. Mereka perlu menyekolahkan anaknya, membiayai perawatan kalau sakit, menyumbang tetangga sebelah yang terkena musibah, menyumbang kegiatan agustusan di RT-RW, perlu menikmati rupa-rupa kebahagiaan manusiawi-duniawi seperti halnya para pengusaha.
***
Air, kendati tak berakal, ia malah lebih peduli kehidupan. Ia tidak memanfaatkan lingkungannya, tempatnya berada, untuk kesenangan dirinya. Sebaliknya, ia malahan memberi diri sepenuhnya untuk kelangsungan hidup sekitarnya. Dalam wadah apa pun dan untuk keperluan apa pun tak pernah ia tolak. Mau dipakai untuk membersihkan kotoran oke. Untuk diminum, menyiram tanaman, dst., ia juga setuju.
Hebatnya, kendati memberikan dirinya secara total, air tak kehilangan apa-apa. Tidak kehilangan identitas. Ia malah menghasilkan banyak hal. Kebersihan, kesehatan, memperpanjang kehidupan, bahkan menghidupkan. Dalam proses itu, air memang terkadang berubah bentuk dan warna. Tapi, itu tidak lama. Sesaat kemudian, ia pasti kembali ke wujudnya yang asli. Bening! Entah dengan proses pengendapan kotoran bawaannya maupun dengan menguapkan dirinya yang dalam siklus berikutnya kembali dalam wujud air.
Pertanyaannya, bagaimana mengaplikasikannya dalam kehidupan manusia? Mungkinkah?
Mungkin dan pasti bisa. Tentu saja kalau mau. Caranya? Para pemimpin politik, pejabat, penguasa apa pun tak perlu berkoar-koar dari mimbar untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat atau memberantas korupsi. Yang diperlukan ialah mendatangi rakyat. Berbaur dengan keseharian mereka di ladang, sawah, di pabrik, di pasar, dan seterusnya. Makan apa yang mereka makan. Memasak dengan kayu, kompor minyak tanah, atau kompor gas LPG 3 kilo gram yang sering membawa petaka itu. Kemudian, tidur di tempat atau setara tempat mereka. Tidak usah sepanjang tahun. Cukup dilakukan sesekali dalam seminggu atau dalam sebulan. Tapi perlu dilakukan secara berkala guna menghayati secara tepat keadaan nyata masyarakat.
Dengan pengalaman itu, cara pandang para pemimpin politik, pejabat, penguasa terhadap masayarakat dijamin berbeda dari sebelumnya. Karena beda, tentu pendekatan program pemberdayaan, pembangunan, yang dilakukan lebih mengena. Cuma, apakah para pejabat, mulai dari Presiden sampai Lurah, Kepala-kepala Dinas dan para politisi, ketua-ketua partai politik, Ketua DPR, DPRD, DPD, dst., mau bekerja satu dua hari saja di Pabrik Rokok umpanya? Apakah juga mau memasak dengan kayu, kompor minyak tanah atau kompar gas LPG 3 kg itu? Apakah Kapolri juga mau sesekali tidur di tempat para tahanan guna menghayati penderitaan tahanan atas perlakuan petugas-petugas kepolisian?
Bagaimana dengan pengusaha? Ya, sama saja. Si Ical (Abu Rizal Bakri) misalnya, dalam kapasitasnya sebagai pengusaha sesekali tidur, memasak, mandi di lokasi lumpur Lapindo di Porong Sidoarjo. Atau para pemilik pabrik garmen, rokok, sepatu, dsb., sesekali mengerjakan apa yang dikerjakan buruh, karyawan sehari penuh. Entah di pabrik sendiri maupun di pabrik pengusaha lain sambil makan di kios-kios pinggir jalan tempat para buruh makan siang. Juga membiayai hidupnya dan keluarga dengan dana sebesar gaji buruh selama sebulan penuh.
Melaksanakan hal itu, tentu bukan perkara mudah. Bisa dibayanghkan betapa
repotnya seorang Presiden Susilo Bambang Yudoyono yang biasa hidup dengan sistem protokoler tiba-tiba mencangkul di sawah seharian penuh dengan pakaian lusuh dan siang hari harus makan di pematang sawah. Betapa susahnya Abu Rizal Bakri yang terbiasa dengan tempat tidur empuk di ruangan ber-AC, tiba-tiba makan dan tidur dekat semburan lumpur Lapindo yang bau disertai gas beracun dan hawa panas. Betapa sulitnya para anggota DPR wanita atau para istri Gubernur umpamanya melinting rokok di pabrik rokok Gudang Garam Kediri atau Jarum Kudus seharian penuh dengan pakaian seadanya dan berdempetan dengan ibu-ibu buruh pabrik. Tentu saja berat, bukan? Tapi kalau mau menghayati kehidupan nyata sebagian besar anggota masyarakat, keadaan seperti itu perlu dialami. Paling tidak, disediakan waktu untuk melihat dan mengamati para pekerja seperti itu dari dekat. Satu-dua jam, barangkali cukup. Bisakah? ***
Blog ini berisikan rupa-rupa tulisan. Topiknya macam-macam juga. Kalau ada waktu, mampir ya!
Rabu, 20 Juli 2011
Senin, 18 Juli 2011
THOMAS BENAR
Tulisan berikut adalah tanggapan atas catatan harian Saam Fredy Marpaung tanggal 7 Juli 2011 sebagai catatannya atas tulisan saya sebelumnya di Blog saya. Bagi yang mau membaca catatan Saam Fredy, silahkan klik di sini.
Setelah membaca catatan Saam, saya jadi penasaran. Saya terus bertanya, apanya yang bengkok pada tulisan saya? Apa yang harus diluruskan? Terus terang, mungkin karena keterbatasan pemahaman saya, perlu saya akui bahwa saya gagal menemukan hal bengkok yang diluruskan Saam. Yang saya temukan adalah bahwa tulisan itu makin menguatkan posisi tulisan saya. Sikap ragu Thomas atas kebenaran informasi dari teman-temannya, bagi saya, merupakan contoh sikap bijak seperti diajarkan oleh Sheng Ren Kong Zi.
Apa yang dia dengar tentang Yesus, tidak ditelan bulat-bulan lalu disimpulkan benar atau diterima sebagai keadaan nyata. Ia merasa perlu konfirmasi dengan melihat sendiri, mengalami dan menyaksikan sendiri apa yang dikatakan teman-temannya tentang Yesus. Dalam logika ilmiah, sikap ini dapat diterima sebagai sebuah proses dalam mencari, menemukan, dan menarik kesimpulan atas sebuah peristiwa. Tampaknya, inilah kesamaan antara ajaran Sheng Ren Kong Zi dan tindakan Thomas: Penarikan kesimpulan atas sebuah peristiwa dilakukan secara hati-hati. Tidak hanya didasarkan pada sepotong informasi dari orang lain. Melainkan berdasarkan informasi yang –paling tidak dianggap—lengkap. Baik dengan melihat sendiri maupun disempurnakan bersama informasi lain.
Kebenaran yang diperoleh dari proses ini, umumnya dikenal dengan istilah kebenaran empiris. Bila seorang menempuh proses ini, besar kemungkinan bahwa kebenaran yang diungkapkannya diterima. Paling tidak, diterima sebagai benar menurut ukuran yang berlaku saat itu, walaupun kemudian tetap terbuka kemungkinan untuk diperdebatkan oleh penemuan-penemuan yang lain, baik oleh dirinya sendiri maupun orang lain. Ini tetap dimungkinkan karena kebenaran empiris, adalah kebenaran relatif yang terus bergerak dalam dinamika mata rantai tesis-hipotesis.
Kebenaran di atas, agaknya berbeda dari kebenaran yang dikatakan Yesus dalam Injil Yohanes 20 : 29, “Karena engkau telah melihat Aku, maka engkau percaya. Berbahagialah mereka yang tidak melihat, namun percaya.” Bagi seorang ilmuwan murni, kebenaran dalam pernyataan ini sulit diterima. Respon yang pasti muncul ialah bagaimana mungkin hal itu dipercaya tanpa melihat, tanpa konfirmasi, tanpa check and recheck? Si ilmuwan mungkin melanjutkan, apakah bijak jika setiap informasi yang disampaikan oleh orang lain kepada saya tentang satu dan lain hal walaupun tidak ada bukti informasi tambahan atau tanpa dikonfirmasi? Jelas tidak mungkin, bukan?
Apa yang disarankan Yesus kepada Thomas pada nats di atas, agaknya lebih tertuju pada kebenaran religi atau mungkin kebenaran iman, dan bukan empiris. Dan nampaknya kebenaran iman tidak dapat disandingkan dengan kebenaran empiris. Selain wilayahnya lain, proses pencapaian kebenarannya juga beda.
Seratus persen saya setuju bahwa tanpa sepotong informasi, manusia akan menemui kesulitan besar dalam hidupnya. Bayangkan saja betapa sulitnya seseorang yang disuruh ke suatu tempat tanpa diberitahu nama tempatnya dan letaknya di mana. Tanpa mencari informasi selengkap mungkin tentang tempat itu, mustahil baginya sampai di tempat yang dituju. Saya juga mengaminkan bahwa menyimpulkan sesuatu hanya berdasarkan sepotong informasi belumlah cukup. Entah itu menyangkt sesuatu atau seseorang. Tanpa mengumpulakan informasi tambahan selengkap mungkin dan konformasi atas informasi yang ada, ia cenderung menarik kesimpulan yang tak lengkap, bahkan salah tentang sesuatu atau seseorang. Kesimpulan seperti inilah yang saya sebut sangat berbahaya. Coba bayangkan betapa menyesatkan kesimpulan yang mengatakan bahwa orang Indonesia adalah teroris hanya karena banyak orang Indonesia pelaku teror. Atau jika dikatakan bahwa orang Indonesia adalah koruptor hanya karena banyak orang Indonesia yang melakukan tindakan korupsi. Cerita orang buta tentang gajah adalah contoh lain yang sudah dikenal.
Pada titik ini, Thomas benar.
Setelah membaca catatan Saam, saya jadi penasaran. Saya terus bertanya, apanya yang bengkok pada tulisan saya? Apa yang harus diluruskan? Terus terang, mungkin karena keterbatasan pemahaman saya, perlu saya akui bahwa saya gagal menemukan hal bengkok yang diluruskan Saam. Yang saya temukan adalah bahwa tulisan itu makin menguatkan posisi tulisan saya. Sikap ragu Thomas atas kebenaran informasi dari teman-temannya, bagi saya, merupakan contoh sikap bijak seperti diajarkan oleh Sheng Ren Kong Zi.
Apa yang dia dengar tentang Yesus, tidak ditelan bulat-bulan lalu disimpulkan benar atau diterima sebagai keadaan nyata. Ia merasa perlu konfirmasi dengan melihat sendiri, mengalami dan menyaksikan sendiri apa yang dikatakan teman-temannya tentang Yesus. Dalam logika ilmiah, sikap ini dapat diterima sebagai sebuah proses dalam mencari, menemukan, dan menarik kesimpulan atas sebuah peristiwa. Tampaknya, inilah kesamaan antara ajaran Sheng Ren Kong Zi dan tindakan Thomas: Penarikan kesimpulan atas sebuah peristiwa dilakukan secara hati-hati. Tidak hanya didasarkan pada sepotong informasi dari orang lain. Melainkan berdasarkan informasi yang –paling tidak dianggap—lengkap. Baik dengan melihat sendiri maupun disempurnakan bersama informasi lain.
Kebenaran yang diperoleh dari proses ini, umumnya dikenal dengan istilah kebenaran empiris. Bila seorang menempuh proses ini, besar kemungkinan bahwa kebenaran yang diungkapkannya diterima. Paling tidak, diterima sebagai benar menurut ukuran yang berlaku saat itu, walaupun kemudian tetap terbuka kemungkinan untuk diperdebatkan oleh penemuan-penemuan yang lain, baik oleh dirinya sendiri maupun orang lain. Ini tetap dimungkinkan karena kebenaran empiris, adalah kebenaran relatif yang terus bergerak dalam dinamika mata rantai tesis-hipotesis.
Kebenaran di atas, agaknya berbeda dari kebenaran yang dikatakan Yesus dalam Injil Yohanes 20 : 29, “Karena engkau telah melihat Aku, maka engkau percaya. Berbahagialah mereka yang tidak melihat, namun percaya.” Bagi seorang ilmuwan murni, kebenaran dalam pernyataan ini sulit diterima. Respon yang pasti muncul ialah bagaimana mungkin hal itu dipercaya tanpa melihat, tanpa konfirmasi, tanpa check and recheck? Si ilmuwan mungkin melanjutkan, apakah bijak jika setiap informasi yang disampaikan oleh orang lain kepada saya tentang satu dan lain hal walaupun tidak ada bukti informasi tambahan atau tanpa dikonfirmasi? Jelas tidak mungkin, bukan?
Apa yang disarankan Yesus kepada Thomas pada nats di atas, agaknya lebih tertuju pada kebenaran religi atau mungkin kebenaran iman, dan bukan empiris. Dan nampaknya kebenaran iman tidak dapat disandingkan dengan kebenaran empiris. Selain wilayahnya lain, proses pencapaian kebenarannya juga beda.
Seratus persen saya setuju bahwa tanpa sepotong informasi, manusia akan menemui kesulitan besar dalam hidupnya. Bayangkan saja betapa sulitnya seseorang yang disuruh ke suatu tempat tanpa diberitahu nama tempatnya dan letaknya di mana. Tanpa mencari informasi selengkap mungkin tentang tempat itu, mustahil baginya sampai di tempat yang dituju. Saya juga mengaminkan bahwa menyimpulkan sesuatu hanya berdasarkan sepotong informasi belumlah cukup. Entah itu menyangkt sesuatu atau seseorang. Tanpa mengumpulakan informasi tambahan selengkap mungkin dan konformasi atas informasi yang ada, ia cenderung menarik kesimpulan yang tak lengkap, bahkan salah tentang sesuatu atau seseorang. Kesimpulan seperti inilah yang saya sebut sangat berbahaya. Coba bayangkan betapa menyesatkan kesimpulan yang mengatakan bahwa orang Indonesia adalah teroris hanya karena banyak orang Indonesia pelaku teror. Atau jika dikatakan bahwa orang Indonesia adalah koruptor hanya karena banyak orang Indonesia yang melakukan tindakan korupsi. Cerita orang buta tentang gajah adalah contoh lain yang sudah dikenal.
Pada titik ini, Thomas benar.
Jumat, 24 Juni 2011
JANGAN BERLAGAK TAHU
Oleh Yosafati Gulö
Teman saya bertutur tentang keheranannya atas sikap teman kerjanya. Temannya ini katanya, menyebalkan. Setiap bicara, apa saja, dia selalu berlagak serba tahu. Segalanya. Lebih-lebih kalau membicarakan seseorang, kejadian, atau berita media yang lagi hot, ia hampir selalu bisacara seperti tahu persis setiap detail. Teman saya menggambarkannya hampir setara dengan Maha Tahu, Sang Pencipta.
Ia bisa cerita dari A ke Z tentang seseorang. Bukan saja sifat, karakter, ambisi, kebiasaan, keburukan, kehebatan, tapi terkadang sampai ke isi perut. Kalau tidak hati-hati, ia bisa membuat citra siapa pun menjadi baik seperti malaikat atau buruk seperti Mak Lampir dalam cerita sinetron berjudul “Mak Lampir”, walaupun keadaan yang sesungguhnya beda sama sekali.
Kisah Sheng Ren Kong Zi
Mendengar tuturannya itu, saya tiba-tiba teringat kisah Sang Maha Guru bernama Sheng Ren Kong Zi yang dikisahkan Budi S. Tanuwibowo dalam bukunya berjudul “Bertambah Bijak Setiap Hari, 8 x 3 = 23!”
Al kisah, Sang guru menugaskan Yan Yuan, murid kepercayaannya, menyiapkan makanan untuk semua murid seperguruan. Saat itu, dalam sebuah perjalanan jauh, mereka sudah kehabisan bekal. Tak ada yang bisa dimakan. Padahal, mereka semua kelaparan. Beras segantang pemberian seseorang petani yang baik hati di desa terpencil yang mereka singgahi, jauh dari cukup. Karena itu, Kong Zi menyuruh si murid membuat bubur seencer mungkin agar semua bisa makan.
Sementara Sang Guru mengajar para murid lain di halaman depan, Yan Yuan membuat bubur di ruangan belakang rumah si petani. Ketika mulai masak, bubur yang sangat encer itu meluber. Tumpah di sekitar tungku. Si murid berbudi ini sedih bukan kepalang. Ia lantas mengumpulkan tumpahan bubur itu. Ditaruhnya di mangkuk lalu dimakan. Daripada mubazir, biarlah itu jadi bagiannya, katanya dalam hati.
Tidak disangka, tiba-tiba Sang Guru, Kong Zi, masuk ke ruang belakang mengecek pekerjaan Yan Yuan. Sang guru kaget. Kecewa. Tak menyangka kalau murid yang selama ini sangat dipercaya, pintar, dikasihinya ternyata curang. Ini keterluan, pikir Sang Guru. Tanpa ijin, bahkan berani mendahului Sang guru dan teman-temannya.
Syukur bahwa Sang guru bijak ini masih punya rem. Ia tidak langsung melabrak Yan Yuan. Sebagai guru yang sangat populer karena sifat bijaknya serta merta menangkap ada sesuatu dari pandangan mata Yan Yuan. Ia lalu mendekat dan meminta Yan Yuan memberi penjelasan mengapa ia makan bubur mendahului yang lain.
Mendengar apa yang sesungguhnya terjadi dari tuturan Yan Yuan, Sang guru kembali kaget. Ia sadar bahwa dirinyalah yang salah. Bukan Yan Yuan. Ia gegabah dalam menilai murid terbaiknya itu. Maka dengan jiwa besarnya, Kong Zi yang amat bijak itu langsung meminta maaf kepada Yan Yuan.
Di Balik Peristiwa
Peristiwa tersebut mengingatkan Sang Guru, dan (mungkin juga) kita semua, bahwa mendengar sesuatu dari orang lain tentang sesuatu atau seseorang, jauh dari cukup. Mendengar sendiri, juga belum cukup. Bahkan melihat dengan mata kepala sendiri pun, jika hanya sebagian, bisa menyesatkan. Juga bisa sangat berbahaya. Baik bagi diri sendiri maupun orang lain. Maka, seorang Junzi (insan beriman dan berbudi luhur), tulis Budi S. Tanuwibowo, selalu meneliti hakikat sebuah perkara. Tidak boleh terburu-buru.
Kisah tersebut mengingatkan kita agar tidak cepat-cepat mengambil kesimpulan. Tidak layak menghakimi seseorang dengan bermodalkan sepotong informasi dari orang lain. Sebab, sepotong informasi, apalagi dari orang lain, telah mengalami banyak distorsi. Apa yang didengar atau disaksikan sendiri pun tak pernah bisa utuh.
Mengapa? Karena di balik sebuah peristiwa, penampilan, atau respon seseorang atas sesuatu, ada sejumlah hal tersembunyi di belakangnya. Hal ini, lebih sering kita belum tahu. Apa yang nampak, sesungguhnya tidak memberi informasi apa-apa. Ia hanya kulit luar. Bukan hakikat. Atau Ia hanya akibat. Sebuah ujung yang muncul terkadang baru merupakan gejala, fenomena, akibat dari sebuah ujung lain, yang masih tersembunyi, yang seharusnya digali, dan diselidiki.
Itu sudah merupakan “hukum alam” yang sepatutnya disadari dan ditaati.
Melanggar prinsip ini berarti melanggar hukum alam. Dan melangar hukum alam berarti merusak hakikat. Dan ini, sekali lagi, bisa sangat berbahaya! Lebih-lebih bagi pengambil keputusan terkait dengan hidup dan masa depan seseorang atau banyak orang***
Teman saya bertutur tentang keheranannya atas sikap teman kerjanya. Temannya ini katanya, menyebalkan. Setiap bicara, apa saja, dia selalu berlagak serba tahu. Segalanya. Lebih-lebih kalau membicarakan seseorang, kejadian, atau berita media yang lagi hot, ia hampir selalu bisacara seperti tahu persis setiap detail. Teman saya menggambarkannya hampir setara dengan Maha Tahu, Sang Pencipta.
Ia bisa cerita dari A ke Z tentang seseorang. Bukan saja sifat, karakter, ambisi, kebiasaan, keburukan, kehebatan, tapi terkadang sampai ke isi perut. Kalau tidak hati-hati, ia bisa membuat citra siapa pun menjadi baik seperti malaikat atau buruk seperti Mak Lampir dalam cerita sinetron berjudul “Mak Lampir”, walaupun keadaan yang sesungguhnya beda sama sekali.
Kisah Sheng Ren Kong Zi
Mendengar tuturannya itu, saya tiba-tiba teringat kisah Sang Maha Guru bernama Sheng Ren Kong Zi yang dikisahkan Budi S. Tanuwibowo dalam bukunya berjudul “Bertambah Bijak Setiap Hari, 8 x 3 = 23!”
Al kisah, Sang guru menugaskan Yan Yuan, murid kepercayaannya, menyiapkan makanan untuk semua murid seperguruan. Saat itu, dalam sebuah perjalanan jauh, mereka sudah kehabisan bekal. Tak ada yang bisa dimakan. Padahal, mereka semua kelaparan. Beras segantang pemberian seseorang petani yang baik hati di desa terpencil yang mereka singgahi, jauh dari cukup. Karena itu, Kong Zi menyuruh si murid membuat bubur seencer mungkin agar semua bisa makan.
Sementara Sang Guru mengajar para murid lain di halaman depan, Yan Yuan membuat bubur di ruangan belakang rumah si petani. Ketika mulai masak, bubur yang sangat encer itu meluber. Tumpah di sekitar tungku. Si murid berbudi ini sedih bukan kepalang. Ia lantas mengumpulkan tumpahan bubur itu. Ditaruhnya di mangkuk lalu dimakan. Daripada mubazir, biarlah itu jadi bagiannya, katanya dalam hati.
Tidak disangka, tiba-tiba Sang Guru, Kong Zi, masuk ke ruang belakang mengecek pekerjaan Yan Yuan. Sang guru kaget. Kecewa. Tak menyangka kalau murid yang selama ini sangat dipercaya, pintar, dikasihinya ternyata curang. Ini keterluan, pikir Sang Guru. Tanpa ijin, bahkan berani mendahului Sang guru dan teman-temannya.
Syukur bahwa Sang guru bijak ini masih punya rem. Ia tidak langsung melabrak Yan Yuan. Sebagai guru yang sangat populer karena sifat bijaknya serta merta menangkap ada sesuatu dari pandangan mata Yan Yuan. Ia lalu mendekat dan meminta Yan Yuan memberi penjelasan mengapa ia makan bubur mendahului yang lain.
Mendengar apa yang sesungguhnya terjadi dari tuturan Yan Yuan, Sang guru kembali kaget. Ia sadar bahwa dirinyalah yang salah. Bukan Yan Yuan. Ia gegabah dalam menilai murid terbaiknya itu. Maka dengan jiwa besarnya, Kong Zi yang amat bijak itu langsung meminta maaf kepada Yan Yuan.
Di Balik Peristiwa
Peristiwa tersebut mengingatkan Sang Guru, dan (mungkin juga) kita semua, bahwa mendengar sesuatu dari orang lain tentang sesuatu atau seseorang, jauh dari cukup. Mendengar sendiri, juga belum cukup. Bahkan melihat dengan mata kepala sendiri pun, jika hanya sebagian, bisa menyesatkan. Juga bisa sangat berbahaya. Baik bagi diri sendiri maupun orang lain. Maka, seorang Junzi (insan beriman dan berbudi luhur), tulis Budi S. Tanuwibowo, selalu meneliti hakikat sebuah perkara. Tidak boleh terburu-buru.
Kisah tersebut mengingatkan kita agar tidak cepat-cepat mengambil kesimpulan. Tidak layak menghakimi seseorang dengan bermodalkan sepotong informasi dari orang lain. Sebab, sepotong informasi, apalagi dari orang lain, telah mengalami banyak distorsi. Apa yang didengar atau disaksikan sendiri pun tak pernah bisa utuh.
Mengapa? Karena di balik sebuah peristiwa, penampilan, atau respon seseorang atas sesuatu, ada sejumlah hal tersembunyi di belakangnya. Hal ini, lebih sering kita belum tahu. Apa yang nampak, sesungguhnya tidak memberi informasi apa-apa. Ia hanya kulit luar. Bukan hakikat. Atau Ia hanya akibat. Sebuah ujung yang muncul terkadang baru merupakan gejala, fenomena, akibat dari sebuah ujung lain, yang masih tersembunyi, yang seharusnya digali, dan diselidiki.
Itu sudah merupakan “hukum alam” yang sepatutnya disadari dan ditaati.
Melanggar prinsip ini berarti melanggar hukum alam. Dan melangar hukum alam berarti merusak hakikat. Dan ini, sekali lagi, bisa sangat berbahaya! Lebih-lebih bagi pengambil keputusan terkait dengan hidup dan masa depan seseorang atau banyak orang***
Langganan:
Postingan (Atom)




