(Tulisan ini dibuat pada hari Jumat, 30 Juli 2010. Pada hari yang sama sudah dipublikasikan di face book. Kalau hari ini muncul pada web ini semata-mata karena memang baru ada kesempatan. Jadi kalau membaca kata ‘tadi pagi’, jangan diartikan sebagai waktu pada saat Anda membaca. Tetapi diartikan sebagai pagi hari Jumat yang tersebutkan sebelumnya)
Oleh Yosafati Gulo
Tadi pagi, saya menghadiri kebaktian pemakaman Pak Arif Andreyana di Tiong Ting Salatiga. Pak Arif (demikian beliau biasa dipanggil) adalah suami Bu Raema, dosen JPBS (sekarang FBS) UKSW Salatiga. Kebaktiannya dipimpinan seorang Pendeta muda GKI Salatiga, Pdt Yefta. Tema kotbah, diangkat dari peristiwa kematian seorang anak Raja Daud yang dilahirkan Batsyeba, mantan istri Uria. Diceritakan bahwa Daud sangat sayang terhadap anak itu. Tapi karena ia lahir dari sebuah persitiwa nista di mata Tuhan, anak itu lalu ditulahi Tuhan sehingga akhirnya ia mati.
Dikisahkan bahwa sebelum mati, anak tersebut sakit parah. Daud memohon kesembuhan kepada Tuhan dengan berpuasa secara tekun selama tujuh hari. Bahkan semalam-malaman Daud tidur di lantai sebagai ungkapan penyesalannya atas dosanya kepada Tuhan. Sampai hari ketujuh, anak itu mati. Mulanya para pegawai istana takut memberitahukannya kepada Daud. Mereka kuatir Daud akan mencelakakan dirinya karena rasa kehilangan.
Dugaan pegawai Istana ternyata meleset. Setelah mengetahui bahwa anak itu telah mati, Daud tidak mencelakakan dirinya seperti dugaan pegawai Istana. Malahan ia langsung bangun dari lantai, mandi dan bertukar pakaian, lantas masuk ke rumah Tuhan untuk menyembah. Sesudah itu ia pulang ke rumahnya, lalu makan roti permintaannya.
Bagi pegawai Istana, respon Daud itu aneh. Tidak kemakan logika. Dengan sedikit takut-takut, mereka lalu bertanya, “Apakah artinya hal yang kauperbuat ini? Oleh karena anak yang masih hidup itu, engkau berpuasa dan menangis, tetapi sesudah anak itu mati, engkau bangun dan makan!” tanya mereka penuh rasa penasaran.
Apa jawab Daud? “Selagi anak itu hidup, aku berpuasa dan menangis, karena pikirku: siapa tahu TUHAN mengasihani aku, sehingga anak itu tetap hidup. Tetapi sekarang ia sudah mati, mengapa aku harus berpuasa? Dapatkah aku mengembalikannya lagi? Aku yang akan pergi kepadanya, tetapi ia tidak akan kembali kepadaku.”
***
Kisah di atas nampaknya mengajak kita untuk mengoreksi cara-cara kita merespon peristiwa kematian. Banyak orang sering tenggelam dalam perkabungan setelah ditinggal orang yang dikasihi. Bukan cuma menangisi berhari-hari, berminggu, berbulan, bahkan tahunan. Tapi sampai-sampai ada yang tidak memperhatikan dirinya sendiri dan akhirnya jatuh sakit.
Peristiwa kematian, memang menyedihkan. Siapa sih yang bersuka ria kalau orang yang dikasihi pergi untuk selamanya? Tentu tidak ada. Tapi mengapa harus menambah kesusahan diri berketerusan? Bukankah yang mati tetap tidak bisa kembali? Cara berpikir Daud, agaknya patut diperhitungkan. Yang mati tidak mungkin kembali. Kitalah, yang hidup, yang akan pergi menuju ke kematian.
Nampaknya perlu disadari bahwa persitiwa kematian adalah sebuah proses alami. Suatu tahap yang, mau atau tidak mau, suka atau tidak suka, dilalui oleh setiap orang yang pernah lahir. Ada semacam siklus alami yang tidak bisa dicegah atau dihindari. Lahir dan mati adalah dua ujung pembatas dan pasti terjadi pada kehidupan. Dari sisi ini, kita, semua manusia sama. Tidak lagi ada orang Yunani atau Yahudi, beragama A atau B, berpendidikan C atau D, berambut lurus atau keriting, orang kota atau desa, dst. Yang berbeda hanyalah caranya datang dan kapan waktunya dalam hidup kita masing-masing.
Saat ini Bapak Arif Andreyana telah sampai pada ujung terakhir. Kita yang masih hidup, sesungguhnya sedang antri menuju ke arah yang sama. Tak ubahnya ketika mengantri di depan loket bank atau mengantri menunggu panggilan pemeriksaan di ruangan tunggu praktek dokter. Dalam antrian itu, saya harap semua sabar dan tertib dalam garis antrian. Jangan ada di antara kita yang main terobos, salip-salipan seperti para pengendara di jalan raya.
Selain itu, peristiwa kematian nampaknya merupakan pembuktian bahwa manusia tidak memiliki kuasa apa pun atas kehidupannya, apa lagi kehidupan orang lain. Manakala kematian menjemput, kita tidak bisa menolak. Juga tidak bisa menawarkan tebusan bagi yang lain. Atau memohon penangguhan seperti penangguhan penahanan yang biasa dilakukan kepada seseorang yang ditahan oleh polisi atau jaksa.
Dengan demikian, kematian adalah sebuah peringatan bagi kita yang masih antri. Pertama-tama agar kita terus awas bahwa apa yang kita alamai dan kita sebut hidup adalah sebuah jangka waktu. Terbatas. Berawal dan berakhir. Dalam rentang kedua ujung itu, kita perlu melakukan sesuatu yang berkmakna. Bermakna kepada siapa? Bisa saja kepada siapa saja dan untuk kehidupan.
Kedua, bahwa hidup yang ada pada kita saat ini berada di luar kendali kita. Ia bukan sebagai milik yang bisa kita atur dan rencanakan. Hidup yang saat ini ada pada diri kita adalah milik Sang Pemilik Kehidupan. Bagi yang percaya, silahkan sebut : Tuhan. Itu artinya, kalau kita masih hidup pastilah bukan karena kuasa kita atau program kita. Semata-mata karena kemurahan Sang Pemilik Kehidupan. Karena Ia masih berkenan mempercayakan, menitipkan, kepada kita sebuah kehidupan. Tiap orang diberi-Nya sama dan hanya satu.
Mau lebih dari satu? Tidak bakalan dikasih-Nya. Bukan apa-apa. Tuhan (barangkali) berpikir, ngapain dikasih dua, satu saja manusia tidak bisa urus. Tidak digunakan untuk membangun kehidupan. Malahan ada yang memakainya untuk memeras kehidupan yang lain untuk kesenangannya sendiri. Mau menyogok Tuhan? Oh oh jangan coba-coba. Tuhan tidak bisa diajak kompromi atau ber-KKN seperti para pejabat di negara kita.
Kalau demikian, selama masa mengantri ini apa yang seharusnya dilakukan? Jawabannya tentu berbeda bagi tiap orang. Nasehat untuk ini juga sudah banyak kita dengar atau baca. Karena itu saya tidak memasuki wilayah ini. Saya hanya mau mengajak kita untuk melakukan satu hal, yaitu setiap orang perlu terus mengajukan pernyataan mengapa Sang Pemilik Kehidupan, Tuhan, masih mau mempercayakan kepadaku dan kepadamu sebuah kehidupan? Apa yang Dia maui kita lakukan dalam kerangka horinzontal dan vertikal? Apa yang Tuhan kehendaki kita lakukan bagi sesama dan bagi DIA?
Dengan alur berpikir ini saya setuju dengan Paulus ketika ia berkata dalam suratnya kepada Jemaat di Roma, Roma 12 : 1, “Karena itu, saudara-saudara, demi kemurahan Allah aku menasihatkan kamu, supaya kamu mempersembahkan tubuhmu sebagai persembahan yang hidup, yang kudus dan yang berkenan kepada Allah: itu adalah ibadahmu yang sejati.”
Mengacu pada nasehat itu, saya setuju bahwa hidup ini tidak pantas dipakai sembarangan. Tubuh ini jangan dipakai suka-suka. Apalagi sebagai pejabat, penguasa, pemodal, lalu memakai hidupnya untuk menjarah harta bangsa dan negara yang seharusnya perlu untuk melayakkan kehidupan orang banyak. Yakinlah, itu tak perlu. Sedikitpun tidak akan mampu memperpanjang masa antrian menuju ujung kehidupan.
Paulus bilang, jadikanlah hidupmu sebagai persembahan. Ops! Tapi, jangan kepada roh-roh jahat atau nafsu-nafsu duniawi dan sejumlah keinginan daging. Bagi Paulus, ukurannya jelas: sebagai persembahan yang hidup, kudus, dan berkenan kepada Allah!
Tentu saja bukan maksudnya tubuh kita dibakar sebagai korban seperti konsep persembahan yang sering disalahpahami. Mempersembahkan tubuh (baca:kehidupan) berarti mengelola kehidupan dalam segala aktivitasnya menjadi sesuatu yang perlu bagi yang lain. Ya sesama manusia, ya kehidupan yang lain. Karena ukurannya jelas, maka setiap kita beraktivitas, pertanyaan yang harus selalu diajukan ialah apakah aktivitas ini kudus dan berkenan kepada Allah?
Dalam pekerjaan pada posisi apa pun, kita harus selalu koreksi dengan pertanyaan tersebut. Sebelum mengeluarkan kebijakan, tanya dulu apakah kebijakan itu kudus dan berkenan kepada Allah? Kalau berniat menilap uang rakyat, me-mark up nilai proyek, mengajar asal-asalan, memberi nilai (maha) siswa, memberi tugas karyawan, dst., tanya dulu apakah tindakan itu kudus dan berkenan kepada Allah. Jika jawabnya ya, lakukanlah! Tapi kalau tidak, ada baiknya berhenti karena apa pun yang diperoleh dalam aktivitas itu tak akan pernah punya nilai sebagai sebuah persembahan yang kudus dan berkenan kepada Allah, Sang Pemilik Kehidupan.
Saya berpendapat, bahwa Pak Arif Andreyana telah berusaha melakukan hal tersebut selama hidup dalam berbagai aktivitas kehidupannya. Kalau saat ini beliau kita sebut mati, pastilah bukan karena rencana atau pilihan beliau. Kemungkinan besar (saya terpaksa menguda-duga lagi karena memang tidak pernah tahu persis) karena Tuhan, Sang Pemilik hidup pak Arif menilai bahwa tugas-tugas kehidupannya sudah cukup.
Tugas yang masih sisa adalah untuk orang lain. Tugas Anda dan saya. Oleh karena itu, rasa-rasanya tak ada alasan untuk tidak merelakannya pergi. Atau memintanya kembali. Atau terus memohon agar Tuhan menahannya dalam garis antrian. Itu di luar kehendak Sang Pemberi Hidup. Yang perlu kita lakukan ialah mempersiapkan diri sebaik mungkin semasih berada dalam garis antrian. Targetnya ialah hidup kita memiliki makna sebagai persembahan kudus dan berkenan kepada Allah. Moga-moga, dengan upaya tersebut kita bisa melangkah dengan kepala tegak menemui Sang pemilik Hidup, ketika berada pada garis terdepan antrian.
Selamat Jalan Pak Arif.
Blog ini berisikan rupa-rupa tulisan. Topiknya macam-macam juga. Kalau ada waktu, mampir ya!
Selasa, 03 Agustus 2010
Kamis, 25 Maret 2010
BERGURU PADA AIR (2)
Oleh Yosafati Gulo
Coba bayangkan betapa hebatnya kehidupan jika masing-masing manusia mau memakai tekad yang diajarkan air. Dalam bekerja, berusaha, belajar mustahil muncul istilah mengeluh. Tidak ada istilah menyerah apalagi menyalahkan pihak lain atau mencari kambing hitam. Ketika berhadapan dengan masalah, bahkan hambatan, yang dilakukan ialah terus berusaha mencari celah-celah “bumi” untuk mencapai “lautan” target seperti yang dilakukan air.
Diyakini bahwa sebesar dan sekeras apa pun masalah, hambatan, pasti ada sisi solusi. Inilah yang dilakukan air ketika ia dibendung di bendungan atau batu-batu besar menghambat alirannya di atas atau di bawah permukaan bumi. Secara perlahan ia terus, tanpa henti, menyusuri pori-pori bumi dan batu untuk mendapatkan tempat yang lebih rendah. Laut.
Itulah yang dilakukan nenek moyang manusia pada zaman dulu sebelum ada korek api. Mereka menggosokkan batu dengan batu sampai mendapatkan api untuk keperluan memasak. Itu pula yang dilakukan Hermawan Kartajaya ketika keluar dari PT Sampoerna dan memulai usaha Mark Plus Profesionalnya di Surabaya.
Saat mulai membangun usahanya ada sejumlah masalah menghadang. Ia tidak serta merta diterima dan diakui oleh dunia bisnis. Ia terhambat oleh bayang-bayang orang-orang tenar di bidang marketing sebelumnya. Menembus bayang-bayang itu, Hermawan tidak menyerang “lawan”, atau mengeluh atau mencari kambing hitam. Ia merasa perlu membangun sendiri image perusahaannya. Meyakinkan publik bahwa gagasannya jauh dahsyat.
Alternatif yang dia pilih adalah menulis di harian jawa pos --karena pada saat itu harian Kompas yang dianggap lebih berpengaruh sering ogah memberi tempat tulisannya—untuk memperkenalkan gagasan-gagasan marketing brilian itu. Selain itu, ia terus membangun jaringan lewat teman-temannya di Rotary Club dan berbagai organisasi yang dimasukinya dengan menawarkan diri menjadi pembicara gratis alias tidak usah dibayar pada seminar-seminar.
Dengan terus menulis dan menjadi pembicara gratis, Hermawan Kartajaya ternyata sukses. Gagasannya lewat Mark Plus Profesional bukan cuma dikenal. Malahan menjadi kiblat dunia bisnis dewasa ini. Ilmu air yang digunakannya, entah disadari atau tidak, membuatnya mampu menembus “batu-batu” besar, para penulis kenamaan, pembicara tenar, yang sebelumnya menghambat diri dan gagasannya untuk dikenal.
Airkah yang Kotor dan Berbau?
Mau belajar dari air sungai atau air sumur galian dari bawah tanah? Boleh juga. Tinggal pilih jenis sungai yang ada. Mau sungai dari celah gunung, karang, pebukitan yang jernih, atau air sungai yang tampak kotor dan berbau karena telah membersihkan kotoran-kotoran manusia, limbah pabrik, semuanya pasti baik.
Hal utama yang dilakukan air adalah terus bergerak dan mengalir. Ia terus mencari tempat yang lebih rendah. Tapi, itu, tidak untuk dirinya sendiri. Bersamaan dengan pencarian yang tak henti, ia membawa sertanya pasir atau partikel-pertikel tanah. Karena itu ia sering tampak keruh, kotor. Tapi, semua bawaannya ini, ternyata perlu bagi manusia. Entah untuk memangun rumah, kantor, hotel, jembatan, atau bertani di area yang disuburkan di sekitar muara.
Sebagian lainnya tidak membawa apa-apa. Yang ini tampak jernih. Sebelum mencapai tujuan akhir, air ini mampir di rumah-rumah, hotel, restaurant, pabrik, atau beraneka kandang milik manusia. Yang lain, malahan mampir diperut manusia atau hewan atau batang rumput dan pohon. Dalam proses persinggahan, semua air ini menghasilkan efek yang sangat diperlukan. Ia memberi efek kebersihan dan memperpanjang kehidupan. Setelah itu, ia kemudian dibuang atau keluar sendiri lewat proses penguapan. Wujudnya kini ada yang keruh, kotor, dan bau.
Tapi apakah air memang keruh, kotor, dan bau? Nyanya tidak. Yang keruh, kotor, dan bau, adalah limbah manusia atau hewan. Air tetap mempertahankan identitasnya. Ia pasti memisahkan dirinya dengan kotoran sampai kembali ke wujudnya yang asli: bersih, bening, dan tak berbau. Memang tidak selalu cepat menurut ukuran manusia. Sebab, prosesnya butuh waktu. Sebagian dengan masuk kembali ke pori-pori tanah dan sebagian lagi dengan proses penguapan atas bantuan panas sinar matahari.
Target Diri dalam Rangka Bersama
Peristiwa itu mengajarkan kepada manusia banyak hal. Dalam mengejar target-target hidup secara individu, entah posisi, kuasa, kekayaan, atau pengaruh, manusia tak perlu egois alias hanya memikirkan kepentingan diri sendiri. Bersamaan dengan pencarian dan pencapaian target individual, si manusia perlu memberi makna, nilai, bagi kelangsungan hidup yang lain. Baik sesama manusia maupun makhluk lain.
Makin tinggi kedudukan, pengaruh dalam masyarakat, efeknya dalam upaya memperbaiki kehidupan yang lain makin nesar. Makin besar kekayaan seseorang dari dunia usaha, maka jumlah jumlah manusia yang diberdayakan makin banyak juga. Itu artinya target individualnya tercapai dan kebahagiaan, kesejahteraan sesamanya juga meningkat. Barangkali, inilah salah satu makna pepatah, “Sekali mendayung, dua tiga pulau terlampaui”.
Dengan cara ini banyak manfaat yang dapat dipetik. Pertama, persahabatan antar manusia makin terjalin erat. Manusia tidak lagi terkotak-kotak atas dasar primordialisme. Kedua, makna kehadiran di bumi tidak hanya dirasakan oleh keluarga dan orang-orang terdekat. Tapi semua orang, tanpa batas. Itu artinya kehadiran kita sebagai manusia makin terasa. Tidak sekadar ada seperti angin lalu bagi yang lain. Tetapi sesuatu yang turut menunjang kehidupan bersama. Ketiga, dorongan untuk saling melindungi, saling memberi rasa aman, muncul secara otomatis. Si miskin tidak bakalan iri kepada si kaya atau si tersisih kepada si penguasa. Mereka jadi sadar bahwa kekayaan dan kuasa siapa pun berguna bagi mereka juga.
Nampaknya, inilah yang mendasari kata-kata bijak: “Barang siapa memberi akan mendapatkan. Barang siapa tidak memberi akan kehilangan.” Mengapa demikian? Karena makin memberi perhatian, perlindungan, pertolongan kepada yang lain, mereka juga terbeban untuk menjaga, mendukung, melindungi kedudukan, jabatan, pengaruh, harta, dan apa pun kepunyaan Anda. Sebaliknya, bila hanya menonjolkan egoisme, kepentingan sendiri, maka semua orang di sekitar merasa tidak nyaman dengan kehadiran Anda. Maka, baik halus maupun terang-terangan, mereka cenderung menggerogoti apa yang Anda punya. Nah, Kehilangan kan?
Kata-kata bijak lain berkata: “Barang siapa sayang pada nyawanya, akan kehilangan nyawa. Barang siapa merelakan nyawanya bagi orang banyak, akan melindungi nyawanya sendiri.” Maknanya, mirip dengan kata-kata bijak sebelumnya. Jika terus berjuang untuk mempertahakan posisi, jabatan, kuasa, kekayaan tapi sekaligus menyejahterakan orang-orang disekitar, desa, kota, bahkan negara tempat Anda hidup serta alam sekitar, maka semua berjuang mati-matian untuk mendukung perjuangan Anda. Nah, memperpanjang “nyawa” kan?
Pertanyaannya, apa yang Anda pilih? Sepenuhnya terserah Anda saja. ***
Coba bayangkan betapa hebatnya kehidupan jika masing-masing manusia mau memakai tekad yang diajarkan air. Dalam bekerja, berusaha, belajar mustahil muncul istilah mengeluh. Tidak ada istilah menyerah apalagi menyalahkan pihak lain atau mencari kambing hitam. Ketika berhadapan dengan masalah, bahkan hambatan, yang dilakukan ialah terus berusaha mencari celah-celah “bumi” untuk mencapai “lautan” target seperti yang dilakukan air.

Diyakini bahwa sebesar dan sekeras apa pun masalah, hambatan, pasti ada sisi solusi. Inilah yang dilakukan air ketika ia dibendung di bendungan atau batu-batu besar menghambat alirannya di atas atau di bawah permukaan bumi. Secara perlahan ia terus, tanpa henti, menyusuri pori-pori bumi dan batu untuk mendapatkan tempat yang lebih rendah. Laut.
Itulah yang dilakukan nenek moyang manusia pada zaman dulu sebelum ada korek api. Mereka menggosokkan batu dengan batu sampai mendapatkan api untuk keperluan memasak. Itu pula yang dilakukan Hermawan Kartajaya ketika keluar dari PT Sampoerna dan memulai usaha Mark Plus Profesionalnya di Surabaya.
Saat mulai membangun usahanya ada sejumlah masalah menghadang. Ia tidak serta merta diterima dan diakui oleh dunia bisnis. Ia terhambat oleh bayang-bayang orang-orang tenar di bidang marketing sebelumnya. Menembus bayang-bayang itu, Hermawan tidak menyerang “lawan”, atau mengeluh atau mencari kambing hitam. Ia merasa perlu membangun sendiri image perusahaannya. Meyakinkan publik bahwa gagasannya jauh dahsyat.
Alternatif yang dia pilih adalah menulis di harian jawa pos --karena pada saat itu harian Kompas yang dianggap lebih berpengaruh sering ogah memberi tempat tulisannya—untuk memperkenalkan gagasan-gagasan marketing brilian itu. Selain itu, ia terus membangun jaringan lewat teman-temannya di Rotary Club dan berbagai organisasi yang dimasukinya dengan menawarkan diri menjadi pembicara gratis alias tidak usah dibayar pada seminar-seminar.
Dengan terus menulis dan menjadi pembicara gratis, Hermawan Kartajaya ternyata sukses. Gagasannya lewat Mark Plus Profesional bukan cuma dikenal. Malahan menjadi kiblat dunia bisnis dewasa ini. Ilmu air yang digunakannya, entah disadari atau tidak, membuatnya mampu menembus “batu-batu” besar, para penulis kenamaan, pembicara tenar, yang sebelumnya menghambat diri dan gagasannya untuk dikenal.
Airkah yang Kotor dan Berbau?
Mau belajar dari air sungai atau air sumur galian dari bawah tanah? Boleh juga. Tinggal pilih jenis sungai yang ada. Mau sungai dari celah gunung, karang, pebukitan yang jernih, atau air sungai yang tampak kotor dan berbau karena telah membersihkan kotoran-kotoran manusia, limbah pabrik, semuanya pasti baik.
Hal utama yang dilakukan air adalah terus bergerak dan mengalir. Ia terus mencari tempat yang lebih rendah. Tapi, itu, tidak untuk dirinya sendiri. Bersamaan dengan pencarian yang tak henti, ia membawa sertanya pasir atau partikel-pertikel tanah. Karena itu ia sering tampak keruh, kotor. Tapi, semua bawaannya ini, ternyata perlu bagi manusia. Entah untuk memangun rumah, kantor, hotel, jembatan, atau bertani di area yang disuburkan di sekitar muara.
Sebagian lainnya tidak membawa apa-apa. Yang ini tampak jernih. Sebelum mencapai tujuan akhir, air ini mampir di rumah-rumah, hotel, restaurant, pabrik, atau beraneka kandang milik manusia. Yang lain, malahan mampir diperut manusia atau hewan atau batang rumput dan pohon. Dalam proses persinggahan, semua air ini menghasilkan efek yang sangat diperlukan. Ia memberi efek kebersihan dan memperpanjang kehidupan. Setelah itu, ia kemudian dibuang atau keluar sendiri lewat proses penguapan. Wujudnya kini ada yang keruh, kotor, dan bau.
Tapi apakah air memang keruh, kotor, dan bau? Nyanya tidak. Yang keruh, kotor, dan bau, adalah limbah manusia atau hewan. Air tetap mempertahankan identitasnya. Ia pasti memisahkan dirinya dengan kotoran sampai kembali ke wujudnya yang asli: bersih, bening, dan tak berbau. Memang tidak selalu cepat menurut ukuran manusia. Sebab, prosesnya butuh waktu. Sebagian dengan masuk kembali ke pori-pori tanah dan sebagian lagi dengan proses penguapan atas bantuan panas sinar matahari.
Target Diri dalam Rangka Bersama
Peristiwa itu mengajarkan kepada manusia banyak hal. Dalam mengejar target-target hidup secara individu, entah posisi, kuasa, kekayaan, atau pengaruh, manusia tak perlu egois alias hanya memikirkan kepentingan diri sendiri. Bersamaan dengan pencarian dan pencapaian target individual, si manusia perlu memberi makna, nilai, bagi kelangsungan hidup yang lain. Baik sesama manusia maupun makhluk lain.
Makin tinggi kedudukan, pengaruh dalam masyarakat, efeknya dalam upaya memperbaiki kehidupan yang lain makin nesar. Makin besar kekayaan seseorang dari dunia usaha, maka jumlah jumlah manusia yang diberdayakan makin banyak juga. Itu artinya target individualnya tercapai dan kebahagiaan, kesejahteraan sesamanya juga meningkat. Barangkali, inilah salah satu makna pepatah, “Sekali mendayung, dua tiga pulau terlampaui”.
Dengan cara ini banyak manfaat yang dapat dipetik. Pertama, persahabatan antar manusia makin terjalin erat. Manusia tidak lagi terkotak-kotak atas dasar primordialisme. Kedua, makna kehadiran di bumi tidak hanya dirasakan oleh keluarga dan orang-orang terdekat. Tapi semua orang, tanpa batas. Itu artinya kehadiran kita sebagai manusia makin terasa. Tidak sekadar ada seperti angin lalu bagi yang lain. Tetapi sesuatu yang turut menunjang kehidupan bersama. Ketiga, dorongan untuk saling melindungi, saling memberi rasa aman, muncul secara otomatis. Si miskin tidak bakalan iri kepada si kaya atau si tersisih kepada si penguasa. Mereka jadi sadar bahwa kekayaan dan kuasa siapa pun berguna bagi mereka juga.
Nampaknya, inilah yang mendasari kata-kata bijak: “Barang siapa memberi akan mendapatkan. Barang siapa tidak memberi akan kehilangan.” Mengapa demikian? Karena makin memberi perhatian, perlindungan, pertolongan kepada yang lain, mereka juga terbeban untuk menjaga, mendukung, melindungi kedudukan, jabatan, pengaruh, harta, dan apa pun kepunyaan Anda. Sebaliknya, bila hanya menonjolkan egoisme, kepentingan sendiri, maka semua orang di sekitar merasa tidak nyaman dengan kehadiran Anda. Maka, baik halus maupun terang-terangan, mereka cenderung menggerogoti apa yang Anda punya. Nah, Kehilangan kan?
Kata-kata bijak lain berkata: “Barang siapa sayang pada nyawanya, akan kehilangan nyawa. Barang siapa merelakan nyawanya bagi orang banyak, akan melindungi nyawanya sendiri.” Maknanya, mirip dengan kata-kata bijak sebelumnya. Jika terus berjuang untuk mempertahakan posisi, jabatan, kuasa, kekayaan tapi sekaligus menyejahterakan orang-orang disekitar, desa, kota, bahkan negara tempat Anda hidup serta alam sekitar, maka semua berjuang mati-matian untuk mendukung perjuangan Anda. Nah, memperpanjang “nyawa” kan?
Pertanyaannya, apa yang Anda pilih? Sepenuhnya terserah Anda saja. ***
Minggu, 21 Maret 2010
BERGURU PADA AIR (1)
Oleh Yosafati Gulo
Air adalah salah satu anugrah Sang Pencipta dalam kehidupan manusia dan alam. Dalam wikipedia disebutkan 71% dari bumi diisi air. Terbanyak ada di laut. Lainnya, di danau, rawa, sungai, dan di bawa permukaan bumi. Wujudnya ada tiga. Bentuk cair, es, dan uap. Es dan uap berasal dari air juga. Yang satu adalah air yang mengeras dan lainnya adalah gas. Keduanya berubah karena faktor udara. Pada titik tertentu, baik es maupun gas selalu kembali pada wujudnya semula, cair.
Salah satu sifat mutlak dari air adalah mengalir. Terkadang berbelok-belok dan terkadang lurus. Tapi tujuannya jelas. Ia pasti menuju ke tempat yang lebih rendah, laut, untuk bergabung - menyatu ke sesama air. Mustahil ada air yang mengalir ke atas, ke arah bukit atau gunung. Memang ada juga air yang mampir di danau. Ada dari sungai atau hujan. Tapi itu hanya sementara. Bukan tujuan akhir. Manakala danau penuh atau meluap karena banjir, air akan meninggalkan danau menuju laut. Dalam kondisi normal pun, ia terus bergerak. Terus berusaha menelusur celah-celah bumi untuk mencapai laut.
Di laut, semua air dari berbagai latar belakang bertemu. Ada air hujan, air jernih dari sumber pebukitan atau celah-celah batu, air sungai keruh penuh lumpur yang dibawa banjir, air kotor dan bau dari limbah industri, dan lainnya. Semuanya bercampur baur. Menyatu. Tidak ada yang protes. Tidak ada yang memisahkan diri dan membentuk kelompok sendiri. Tidak ada yang mengangggap diri paling air di antara air. Atau paling berkuasa di antara para air. Semua saling menerima dan memosisikan diri sama. Mereka tinggal bersama di tempat yang sama dengan penuh kedamaian, kerukunan, dan keharmonisan.
Dalam keberagaman, mereka menemukan jati diri dan hakekatnya sebagai air. Yang satu tampak jernih, bening, karena ia murni keluar dari perut bumi dan belum tercemari. Karena itu ia baik untuk diminum oleh manusia. Yang lain tampak kotor dan berbau karena ia datang bersama limbah pabrik atau lumpur. Sebenarnya, ia tidak beda dengan air jernih. Aslinya, ia tidak kotor dan berbau. Cuma, sebelum sampai di laut, ia sempat mampir di pabrik untuk membantu produksi keperluan manusia atau di rumah-rumah manusia untuk membersihkan pakaian kotor dan keringat diri setelah lelah bekerja. Semua penampilan fisik itu, tidak dipersoalkan. Warna-warni latar belakang dan atribut-atribut alami dipahami sebagai sebuah keindahan dan keajaiban karya tangan Sang Pencipta.
Manusia Semestinya Malu
Sebagai makhluk yang berakal, semestinya manusia malu terhadap air. Manusia berakal, tapi tindakan, pikiran, peruatan, dan kecenderungan hatinya sering melawan akalnya. Bukannya mencari dan rindu menyatu dengan sesamanya. Tapi, justru sibuk memisahkan diri, menjauh atau mencutkan diri ke atas untuk hanya memenuhi hasrat-hasrat individualnya.
Jika sudah berposisi tinggi, kaya, berpengaruh, manusia seolah lupa pada hakekatnya sebagai manusia. Bukannya tinggal dan berusaha menyatu dengan sesamanya lalu memikirkan cara-cara mengangkat harkat hidup sesama manusia. Yang dilakukan justru sebaliknya. Mencari untungan sebanyak-banyak dan sebesar-besarnya dari manusia lain untuk makin mengokohkan posisi, kuasa, dan pengaruhnya demi kepentingan dirinya, keluarganya, kelompoknya, dan orang-orang yang sepaham dengannya.
Dalam posisi itu sebetulnya, si manusia bisa melakukan banyak hal bermakna bagi kehidupan. Ia bisa membantu meningkatkan kualitas hidup sesamanya melalui berbagai cara. Memaknai kekayaan, kuasa, pengaruh yang dimilikinya sebagai alat untuk membangun kehidupan bersama. Terutama bersama mereka yang masih berkerumun di lautan manusia yang kehidupannya belum layak.
Bisa saja dengan menciptakan lapangan kerja bagi yang menganggur. Bisa juga memberi modal usaha secara cuma-cuma. Membiayai sekolah anak-anak miskin. Membuka kursus-kursus ketrampilan yang dapat dimasuki oleh orang-orang miskin tanpa harus menarik biaya. Targetnya, tak usah muluk-muluk. Yang penting, sebagian dari keuntungan usaha dan kekayaan dianggarkan secara bersinambungan untuk membantu sesama. Coba bayangkan betapa mudahnya membangun bangsa ini, kalau 1000 saja orang kaya masing-masing memodali 5 orang tiap tahun atau menyekolahkan 10 orang tiap tahun.
Modalnya juga bisa macam-macam. Mulai dari memodalinya dengan sebuah ketrampilan, disusul dengan modal usaha sesuai kemampuan dan ketrampilannya, dan seterusnya. Demikian pula soal sekolah. Bagi yang berpotensi dapat disekolahkan sampai sarjana bahkan doktoral. Kalau kemampuannya pas-pasan, ya, sampai sekolah menengah atau sesuai kemampuannya. Bagi yang berpotensi, sangat dimungkinkan bahwa sebelum menyelesaikan doktoralnya ia bisa mencari biaya sendiri bahkan bisa membantu yang lain secara estafet.
Klaim-Kalim Manusiawi
Aneh bin tidak masuk akal. Manusia berakal ini masih rajin membuat klaim-klaim yang tak masuk akal atas kehidupan yang mengenai sesamanya. Karena merasa kuat, berkuasa, maka kebenaran dilkaim sebagai miliknya. Yang disebut benar hanyalah yang dikatakannya benar. Lainnya tidak. Bumi dan segala isinya diklaim sebagai miliknya karena ia merasa sebagai penduduk paling asli.
Soal agama dan kepercayaan sama saja. Apa yang dianutnya dianggap paling benar. Semua anutan lain yang berbeda, dianggapnya salah. Karena itu harus dibasmi. Warna-warni kehidupan tidak dipahami sebagai wujud keagungan karya Sang Pencipta.
Lucunya, keyakinannya terus menerus mengajarkannya tentang keberbagaian. Semua yang ada adalah ciptaan Tuhan yang dipuja-pujinya. Di satu sisi ia rajin menyembah Tuhannya. Tapi di sisi lain ia juga rajin menentang kebebaran buah karya Tuhannya. Ia tidak mau sadar bahwa Tuhan memang sengaja membuat keberbagaian guna memenuhi kebutuhan seluruh umat manusia yang memang diciptakan dalam keberbagaian. ***
Langganan:
Postingan (Atom)