Rabu, 20 Juli 2011

BERGURU PADA AIR (3)

Oleh Yosafati Gulo

Dalam menjalankan kehidupan, air ternyata paling fleksibel. Ia tidak main babat dan memaksakan kehendak karena merasa dirinya benar. Manakala ia berada di ember, botol, gelas, aquarium, kolam, danau, dan seterusnya, ia pasti membentuk diri persis tempatnya itu. Ia menyesuaikan diri, tapi tidak kehilangan jati diri. Ia membentuk dirinya seperti ember, tapi tidak menjadi ember. Membentuk dirinya seperti botol, tapi tidak menjadi botol. Daya suai yang luar biasa ini membuat air selalu dapat diterima oleh wadah apa pun. Air dan wadah pasti sama-sama merasa nyaman, harmonis, tanpa konflik.

Manusia, karena berakal, seharusnya jauh lebih hebat. Bukan saja karena ia mampu meganalisis situasi sehingga memudahkannya menyesuaikan diri. Tapi ia juga berkemampuan mengubah situasi sehingga bisa menjadi lebih kondusif dan bernilai lebih bagi banyak komunitas. Paling tidak, bagi dirinya sendiri dan lingkungan!
Celakanya, kemampuan lebih ini ternyata suka disalahgunakan manusia. Ia terkadang malas menyesuaikan diri dengan keadaan sekitar. Kecenderungan hatinya adalah mengubah yang ada menurut selera hatinya, demi kepentingan dan kesenangan dirinya sendiri.

Ketika berjuang merebut posisi politik, misalnya, rakyat dielus-elus. Bahkan dibius dengan berbagai cara. Selama penggalangan suara, selalu berusaha tampil –seolah-olah sangat-- dekat dengan rakyat. Apa-apa yang diminta rakyat dipenuhi. Tidak segan-segan berbaur dengan rakyat di mana pun dan dalam acara apa pun. Seperti tulus betul menyatu dengan rakyat. Ngobrol, bergurau, bahkan makan bersama mereka di rumah makan pingir jalan. Pokoknya ia mencitrakan diri sebagai bagian dari rakyat yang paham betul keadaan rakyat.

Setelah terpilih, ternyata lain. Aslinya nampak. Jangankan memperjuangkan kepentingan rakyat yang sebelumnya diusung untuk merebut hati rakyat, mendengarkan keluhan rakyat saja, kupingnya gatal. Alergi. Inilah yang tengah dipertontonkan anggota DPR dan pejabat eksekutif Indonesia di semua aras saat ini.

***

Para pengusaha, sama saja. Dalam menjalankan usaha perkayuan di hutan,
ia tak peduli soal regenerasi hutan, efek banjir dan erosi, atau kelangsungan ekosistem. Yang penting baginya, asal berbau kayu semua dibabat. Ia tak pernah takut ancaman ketentuan hukum. Hukum hanya berlaku bagi kebanyakan orang. Bagi dia tidak. Di semua lembaga hukum, kepolisian, kejaksaan, kehakiman, Bupati, Wali kota, Gubernur adalah konco kentalnya. Dan, banyak juga di antara pejabat itu yang memposisikan diri seperti karyawan, yang kalau disuruh pasti “patuh”. Kepatuhan mereka, tentu saja bukan kepatuhan tulus karena dinilai benar, tapi lebih bersifat kepatuhan karena diberi imbalan. Semua konco-konco itu pasti memberikan perlindungan sampai kayu keluar dari hutan kemudian berubah wujud jadi uang.

Oleh sebab itu, ia tak pernah ragu membabat habis semua kayu. Yang penting, mendatangkan uang, uang, dan uang. Bahwa akan terjadi bahaya banjir dan tanah longsor, ia tak peduli karena tidak langsung mengenai dirinya. Rumahnya, anak-istrinya toh jauh dari lokasi. Mustahil mereka terkena dampak longsor dan banjir. Kalau orang desa terkena longsoran tanah dan banjir, biar saja. Itu kan urusan pemerintah, katanya dalam hati sambil terus menghitung keuntungan dari kayu.

Ketika mendirikan dan mengelola pabrik dengan menggunakan tenaga kerja berpendidikan rendah, ia tak pernah memikirkan masa depan karyawan. Kalau perlu mereka dibayar sekecil-kecilnya guna mendapatkan keuntungan sebesar-besarnya. Ia tak pernah mau paham bahwa tenaga kerja yang telah memberinya keuntungan itu juga manusia yang butuh masa depan. Masa depan yang lebih baik seperti dirinya. Mereka perlu menyekolahkan anaknya, membiayai perawatan kalau sakit, menyumbang tetangga sebelah yang terkena musibah, menyumbang kegiatan agustusan di RT-RW, perlu menikmati rupa-rupa kebahagiaan manusiawi-duniawi seperti halnya para pengusaha.

***

Air, kendati tak berakal, ia malah lebih peduli kehidupan. Ia tidak memanfaatkan lingkungannya, tempatnya berada, untuk kesenangan dirinya. Sebaliknya, ia malahan memberi diri sepenuhnya untuk kelangsungan hidup sekitarnya. Dalam wadah apa pun dan untuk keperluan apa pun tak pernah ia tolak. Mau dipakai untuk membersihkan kotoran oke. Untuk diminum, menyiram tanaman, dst., ia juga setuju.

Hebatnya, kendati memberikan dirinya secara total, air tak kehilangan apa-apa. Tidak kehilangan identitas. Ia malah menghasilkan banyak hal. Kebersihan, kesehatan, memperpanjang kehidupan, bahkan menghidupkan. Dalam proses itu, air memang terkadang berubah bentuk dan warna. Tapi, itu tidak lama. Sesaat kemudian, ia pasti kembali ke wujudnya yang asli. Bening! Entah dengan proses pengendapan kotoran bawaannya maupun dengan menguapkan dirinya yang dalam siklus berikutnya kembali dalam wujud air.

Pertanyaannya, bagaimana mengaplikasikannya dalam kehidupan manusia? Mungkinkah?
Mungkin dan pasti bisa. Tentu saja kalau mau. Caranya? Para pemimpin politik, pejabat, penguasa apa pun tak perlu berkoar-koar dari mimbar untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat atau memberantas korupsi. Yang diperlukan ialah mendatangi rakyat. Berbaur dengan keseharian mereka di ladang, sawah, di pabrik, di pasar, dan seterusnya. Makan apa yang mereka makan. Memasak dengan kayu, kompor minyak tanah, atau kompor gas LPG 3 kilo gram yang sering membawa petaka itu. Kemudian, tidur di tempat atau setara tempat mereka. Tidak usah sepanjang tahun. Cukup dilakukan sesekali dalam seminggu atau dalam sebulan. Tapi perlu dilakukan secara berkala guna menghayati secara tepat keadaan nyata masyarakat.

Dengan pengalaman itu, cara pandang para pemimpin politik, pejabat, penguasa terhadap masayarakat dijamin berbeda dari sebelumnya. Karena beda, tentu pendekatan program pemberdayaan, pembangunan, yang dilakukan lebih mengena. Cuma, apakah para pejabat, mulai dari Presiden sampai Lurah, Kepala-kepala Dinas dan para politisi, ketua-ketua partai politik, Ketua DPR, DPRD, DPD, dst., mau bekerja satu dua hari saja di Pabrik Rokok umpanya? Apakah juga mau memasak dengan kayu, kompor minyak tanah atau kompar gas LPG 3 kg itu? Apakah Kapolri juga mau sesekali tidur di tempat para tahanan guna menghayati penderitaan tahanan atas perlakuan petugas-petugas kepolisian?

Bagaimana dengan pengusaha? Ya, sama saja. Si Ical (Abu Rizal Bakri) misalnya, dalam kapasitasnya sebagai pengusaha sesekali tidur, memasak, mandi di lokasi lumpur Lapindo di Porong Sidoarjo. Atau para pemilik pabrik garmen, rokok, sepatu, dsb., sesekali mengerjakan apa yang dikerjakan buruh, karyawan sehari penuh. Entah di pabrik sendiri maupun di pabrik pengusaha lain sambil makan di kios-kios pinggir jalan tempat para buruh makan siang. Juga membiayai hidupnya dan keluarga dengan dana sebesar gaji buruh selama sebulan penuh.

Melaksanakan hal itu, tentu bukan perkara mudah. Bisa dibayanghkan betapa
repotnya seorang Presiden Susilo Bambang Yudoyono yang biasa hidup dengan sistem protokoler tiba-tiba mencangkul di sawah seharian penuh dengan pakaian lusuh dan siang hari harus makan di pematang sawah. Betapa susahnya Abu Rizal Bakri yang terbiasa dengan tempat tidur empuk di ruangan ber-AC, tiba-tiba makan dan tidur dekat semburan lumpur Lapindo yang bau disertai gas beracun dan hawa panas. Betapa sulitnya para anggota DPR wanita atau para istri Gubernur umpamanya melinting rokok di pabrik rokok Gudang Garam Kediri atau Jarum Kudus seharian penuh dengan pakaian seadanya dan berdempetan dengan ibu-ibu buruh pabrik. Tentu saja berat, bukan? Tapi kalau mau menghayati kehidupan nyata sebagian besar anggota masyarakat, keadaan seperti itu perlu dialami. Paling tidak, disediakan waktu untuk melihat dan mengamati para pekerja seperti itu dari dekat. Satu-dua jam, barangkali cukup. Bisakah? ***
Posting Komentar