Jumat, 18 Januari 2013

Banjir, Lady Gaga, dan Kita



Oleh Yosafati Gulo

Apa hubungannya Banjir dan Lady Gaga? Ya, banyak banget. Lady Gaga dan banjir suka kebebasan. Mau mengekpresikan dirinya seutuhnya. Termasuk telanjang. Dan banjir memang telanjang. Cuma, Lady Gaga tidak pernah suka banjir kalau mau show. Oh ya, sehari-hari juga begitu. Ia tak suka banjir kalau bepergian pakai kendaraan darat. Sama dengan kita di Indonesia. Apalagi sodara-sodara sebangsa dan setanah air kita di Jakarta saat ini.

Polisi kerahkan ribuan personel atasi banjir Jakarta
Illustrasi. Sumber gambar: http://www.merdeka.com/peristiwa/polisi-kerahkan-ribuan-personel-atasi-banjir-jakarta.html
Kalau begitu, apa bedanya kita dengan Lady Gaga? Oh tentu saja banyak. Sulit dihitung? Persamaannya? Juga banyak. Di antaranya, Lady Gaga dan kita, sama-sama tidak suka banjir. Apalagi kebanjiran. Lady Gaga tidak suka dicekal. Kita? Ya sama, tidak suka juga. Apa hanya kita dan Lady Gaga yang tidak suka dicekal? Oh tidak. Semuanya saja tidak suka. Jangankan manusia, ayam, kambing, tikus, dan binatang apa pun tak suka dicekal. Sama seperti banjir!

Jika begitu, mengapa di antara kita ada yang memupuk hobi mencekal? Padahal kalau si pencekal itu dicekal, ia juga tak mau. Alasan budaya? Budaya yang mana? Lady Gaga kita anggap tidak sopan dan merusak budaya kita? Budaya siapa, budaya apa? Goyangannya di panggung kita nilai jorok? Apanya yang jorok? Bagaimana dengan goyang dangdut model bor dan gergaji? Apa itu sopan atau jorok? Nampaknya semua  relatif. Mau dibilang jorok ya bisa. Tentu kalau otak kita lagi mikir hal-hal jorok. Sebaliknya, kita bisa bilang indah, kalau pikiran kita lagi bersih.

Tidak Pilih Bulu

Banjir, jelas tidak baik. Tapi tidak melulu begitu. Ada sisi baiknya juga. Ya, sama seperi benacana alam apa pun. Banjir ternyata mampu menggelitik kemanusiaan kita. Dengan adanya banjir, kita yang semula selalu “menghitung” dan memertentangkan perbedaan beralih melihatnya sebagai kekuatan yang menghidupkan.
Banjir memaksa kita untuk faham bahwa kita dan manusia lain ternyata sama. Sama-sama butuh nyaman, butuh perlindungan, butuh hidup. Lagi pula, banjir tidak pilih bulu. Siapa saja ia hantam. Ia tak tidak tanya anda dan saya dari etnis apa dan agama apa atau tak puya agama sekalipun. Ia juga tak mau tahu bentuk mata bulat atau sipit, rambut lurus atau keriting. Siapa saja ia babat.

BKPM: Banjir Jakarta tidak seperti Thailand
Sumber gambar : http://www.merdeka.com/uang/bkpm-banjir-jakarta-tidak-seperti-thailand.html
Banjir ternyata menggerakkan kemanusiaan kita yang terdalam. Ia Mampu mengubah sikap kita yang jelek, walaupun hanya sementara. Yang sebelumnya rajin menonjolkan primordialisme, ternyata mengerem diri. Tidak lagi menanyakan siapa, dari suku apa, agamanya apa? Melihat sesama dihempas banjir, spontan kita tolong. Juga terhadap bantuan. Kita tidak tanya, apakah itu dari kafir atau dari orang beriman. Apakah dari Partai A atau B. Dari suku C atau D. Kita ternyata menerima anggapan bahwa hidup lebih penting daripada aspek penompang hidup.

Mengapa begitu? Tentu saja banyak jawabnya. Tapi yang inti menurut saya ialah karena dalam diri kita selalu ada keadaran bahwa hidup adalah yang inti. Karena itu selalu ada keinginan dan kebutuhan menghargai hidup. Ya hidup kita sendiri, ya orang lain. Itulah sebabnya kita tergerak menolong dan tak menolak ditolong. Nampaknya, itulah sikap yang benar. Sebab, banjir sendiri tidak pandang bulu, bukan?

Ajaran Banjir

Lha, kalau banjir saja tidak pilih-pilih, mengapa kita makhluk berakal sering lebih bodoh daripada banjir? Nampaknya, pelajaran yang diajarkan banjir itu perlu kita camkan. Kita perlu membuka hati untuk lebih menghargai hidup, menghormati keberbagaian daripada rupa-rupa eksterior yang sifatnya hanya memerlengkapi hidup.

Jakarta Banjir Januari 2013 14 460x306 Jakarta Banjir Januari 2013 14
Sumber gambar : http://www.dapurpacu.com/foto-foto-banjir-di-mh-thamrin-jakarta/jakarta_banjir_januari_2013_14/
Agama umpamanya. Apakah agama lebih penting daripada hidup? Bagi saya, hidup adalah yang inti. Agama adalah aspek eksterior. Ia hadir untuk menolong manusia dalam memerlengkapi hidup, menyempurnaan hidup. Baik “si sini” maupun “di sana”. Sebab kalau semua manusia sudah mati, apakah agama perlu? Untuk siapa? Untuk apa? Oleh karena itu, tidaklah bijak kalau kita lebih memetingkan agama kalau ia merusak hidup.

Demikian juga etnis. Benar bahwa entis adalah aspek yang melekat pada diri manusia. Ia hadir bersamaan dengan hadirnya manusia di bumi. Tapi mana yang lebih penting, hidup itu sendiri atau etnis? Bagi saya, ya hidup. Saya tak peduli hidup saya dan Anda dari etnis mana. Sebab saya dan Anda tidak dapat memilih lahir dari etnis mana pun. Oleh karena itu, yang penting bagi saya adalah Anda dan saya sama-sama butuh hidup.

Karena sama-sama butuh hidup, maka sudah sepantasnya kita saling mendukung, bukan saling menjegal. Kita perlu saling menolong dan memfasilitasi, bukan saling menghambat. Kita perlu menghargai pluralitas, karena pluralitas adalah khasnya kehidupan. Ia merupakan eksterior hidup yang memberi kekuatan bagi hidup. ***
Posting Komentar